ikon baru pantai losari
Wali Kota Pasang Tiang Pancang Masjid Terapung
09 Mei 2009 02:13 WIB

MAKASSAR–MI: Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin pada hari pertama sebagai wali kota, Jumat (8/5), memasang tiang pancang pembangunan masjid terapung di sekitar anjungan Pantai Losari, Makassar.

Pemasangan tiang pancang pembangunan Masjid 99 Al Makazzary itu, dihadiri Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM) Andi Mattalatta.

Masjid ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.
“Masjid 99 Al Makazzary sarat dengan lambang Asmaul Husna, serta melambangkan kebanggaan orang Sulawesi Selatan,” kata Ilham.

Konsultan ahli Danny Pomanto mengatakan, masjid ini banyak melambangkan makna seperti keislaman, kebesaran, dan kebanggaan.

“Angka 99 melambangkan Asmaul Husna, dan Al Makazzary melambangkan salah seorang imam besar Masjidil Haram Syekh Yusuf Al Makazzary,” katanya.

Pembangunan masjid ini biayanya sekitar Rp6 miliar, yang dihimpun dari sumbangan para dermawan asal Sulawesi Selatan yang berada di perantauan. Saat ini baru terkumpul sekitar Rp2 miliar.

Menurut Danny, masjid ini dibangun dengan memadukan konsep modern, kontemporer, dan islami.

“Masjid ini merupakan yang pertama di dunia, karena keunikannya,” katanya.

Ia mengatakan salah satu keunikannya, masjid terapung yang terletak di timur laut Pantai Losari tersebut jika dilihat dari atas membentuk angka 99, dan di bawah lantai satu terdapat masjid yang berkapasitas 500 orang, serta kubah masjid yang berfungsi sebagai musala bagi masyarakat umum.

“Konsepnya artistik, karena masjid ini bisa dikatakan kecil membentuk angka 99. Para jemaah bisa naik melalui samping tanpa menggunakan tangga, dan langsung menuju musala yang sekaligus merupakan kubah terbuka,” katanya.

Dengan adanya masjid yang berdiameter 45 meter ini, para jemaah yang akan menikmati pemandangan alam yang indah seperti tenggelamnya matahari, bisa dilihat dari musala yang terbuka itu.

Tempat ini juga bisa untuk bersantai, atau tempat istirahat, karena berada di bawah kubah dengan diameter sembilan meter.

“Pada kubah bagian atas tidak ada jendela, sehingga para jemaah bisa merasakan langsung hembusan angin dari laut, dan melihat keindahan matahari tenggelam, kemudian menjalankan ibadah salat magrib,” kata Danny.

Iklan